Sabtu, 27 Desember 2014

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT ENTERITIS

1.      PENGERTIAN ENTERITIS
Penyakit Crohn (Enteritis Regionalis, Ileitis Granulomatosa, Ileokolitis) adalah peradangan menahun pada dinding usus. Enteritis regional, ileokolitis, atau Penyakit Crohn merupakan suatu penyakit peradangan granulomatosa kronik pada saluran cerna yang sering terjadi berulang.Penyakit ini mengenai seluruh ketebalan dinding usus. Kebanyakan terjadi pada bagian terendah dari usus halus (ileum) dan usus besar, namun dapat terjadi pada bagian manapun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus, dan bahkan kulit sekitar anus.
Enteritis regional adalah inflamasi kronis dan sub-akut yang meluas keseluruh lapisan dinding usus dari mukosa usus, ini disebut juga transmural (brunner&suddarth.2002. keperawatan medical bedah.edisi 8.vol 2:1105). Penyakit crohn merupakan salah satu penyakit usus inflamatorik, yang dapat menyerang seluruh bagian saluran gastrointestinal , mulai dari mulut (berupa stomatitis) sampai lesi pada anus (arif mansjoer, dkk .2001.kapita selekta kedokteran. Edisi ketiga.jilid 1: 497).Crohn disease adalah suatu inflamasi transmural gangguan dari saluran system pencernaan (Grace.P.A.2002. Surgery at a Glance second edition:95).Enteritis regional(penyakit crohn) merupkan suatu penyakit peradangan granulomatosa kronis pada saluran cerna yang sering terjadi berulang (price, and Wilson. 2006. Patofisiologi konsep penyakit klinis proses-proses penyakit:446).
2.      ETIOLOGI PENYAKIT ENTERITIS
Etiologi Penyakit Crohn tidak diketahui. Penelitian memusatkan perhatian pada tiga kemungkinan penyebabnya, yaitu :
1.      Kelainan fungsi sistem pertahanan tubuh
2.      Infeksi.
3.      Makanan.
Walaupun tidak ditemukan adanya autoantibodi, enteritis regional diduga merupakan reaksi hipersensitivitas atau mungkin disebabkan oleh agen infektif yang belum diketahui. Teori-teori ini dikemukakan karena adanya lesi-lesi granulomatosa yang mirip dengan lesi-lesi yang ditemukan pada jamur dan tuberkulosis paru. Terdapat beberapa persamaan yang menarik antara enteritis regional dan kolitis ulseratif. Keduanya adalah penyakit radang, walaupun lesinya berbeda. Kedua penyakit ini mempunyai manifestasi di luar saluran cerna yaitu uveitis, artritis dan lesi-lesi kulit yang identik.


3.      PATOFISIOLOGI PENYAKIT ENTERITIS
Enteritis regionl/ penykit crohn umumnya terjadi pada remaja atau dewasa muda , tetapi dapat terjadi kapan saja selama hidup. Keadaan ini sering terlihat pada populasi lansia (50-80 tahun). Meskipun ini dpat terjdi dimana saja disepanjang sluran gastrointestinal , area paling umum yang sering terkena adalah ileum distal dan kolon. Enteritis regional dalah penyakit inflamasi kronois dan subakut yang meluas keseluruh lapisan dinding usus dari mukosa usus, ini disebut juga transmural. Pembentukan fistula . fistula dan abses terjadi sesuai luasnya inflamasi kedalam peritoneum . lesi (ulkus) tidak pada kontak terus menerus satu sama lain dipisahkan oleh jaringan normal. Granuloma terjadi pada setengah kasus . Pada kasus lanjut mukosa usus mempunyai penampilan (coblostone) dengan berlanjutnya penyakit , dinding usus menebal dan menjadi fibrotic dan lumen usus menyempit.(Brunner & Suddarth, keperawatan medical bedah.vol 2:1105).
Manifestasi pada penyakit Corhn akan terjadi nyeri abdoemn menetap dan diare yang tidak hilang dengan defeksi. Diare terjadi pada 90% pasien. Jaringan parut dan pembentukan granuloma mempengaruhi kemampuan usus untuk mentraspor produk dari pencernaan usus atas melalu lumen yang terkonstriksi, mengakibatkan nyeri abdomen berupa kram. Gerakan peristaltik usus dirangsang oleh makan sehingga nyeri kram terjadi setelah makan. Untuk menghindari nyeri kram ini, pasien cenderung untuk membatasi masukan makanan, mengurangi jumlah dan jenis makanan sehingga kebutuhan nutrisi normal tidak terpenuhi. Akibatnya adalah penurunan berat badan, malnutrisi, anemia sekunder. Selain itu, pembentukan ulkus dilapisan membran usus dan ditempat terjadinya inflamasi akan menghasilkan rabas pengiritasi konstan yang dialirkan ke kolon dari usus yang tipis, bengkak, yang menyebabkan diare kronis. Kekurangan  nutrisi dapat terjadi akbiat absorbsi terganggu. Malabsorbsi terjadi sebagai akibat hilangnya fungsi penyerapan permukaan mukosa. Fenomena ini dapat mengakibatkan malnutrisi protein – kalori, dehidrasi dan beberapa kekurangan gizi.


4.      PATOGENESIS
Ileum terminal terserang pada sekitar 80% kasus enteritis regional. Pada sekitar 35% kasus lesi-lesi terjadi pada kolon. Esofagus dan lambung lebih jarang terserang. Dalam beberapa hal terjadi lesi “melompat” yaitu bagian usus yang sakit dipisahkan oleh daerah-daerah usus normal sepanjang beberapa inci atau kaki. Lesi diduga mulai pada kelenjar limfe dekat usus halus yang akhirnya menyumbat aliran saluran limfe. Selubung submukosa usus jelas menebal akibat hiperplasia jaringan limfoid dan limfedema. Dengan berlanjutnya proses patogenik, segmen usus yang terserang menebal sedemikian rupa sehingga kaku seperti selang kebun, lumen usus menyempit, sehingga hanya sedikit dilewati barium, menimbulkan “string sign” yang terlihat pada radiogram. Seluruh dinding usus terserang. Mukosa seringkali meradang dan bertukak disertai eksudat yang putih abu-abu.

5.      TANDA DAN GEJALA
Para penderita mengeluh mengenai sakit perut yang berulang-ulang, sering mendapat serangan diare, atau sebaliknya susah buang air besar, kadang-kadang panas, nafsu makan berkurang dan penurunan berat badan. Perdarahan per anum sering disebabkan radang pada kolon. Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan atau rasa penuh pada perut bagian bawah, lebih sering di sisi kanan. Komplikasi yang sering terjadi dari peradangan ini adalah penyumbatan usus, saluran penghubung yang abnormal (fistula) dan kantong berisi nanah (abses).Bila Penyakit Crohn menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita juga bisa mengalami :
a.       peradangan sendi (artritis).
b.      peradangan bagian putih mata (episkleritis).
c.       luka terbuka di mulut (stomatitis aftosa).
d.      nodul kulit yang meradang pada tangan dan kaki (eritema nodosum).
e.       luka biru-merah di kulit yang bernanah (pioderma gangrenosum).
Jika Penyakit Crohn tidak menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita masih bisa mengalami :
a.       peradangan pada tulang belakang (spondilitis ankilosa).
b.      peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis).
c.       peradangan di dalam mata (uveitis) .
d.      peradangan pada saluran empedu (kolangitis sklerosis primer).
Pada anak-anak, gejala-gejala saluran pencernaan seperti sakit perut dan diare sering bukan merupakan gejala utama dan bisa tidak muncul sama sekali. Gejala utamanya mungkin berupa peradangan sendi, demam, anemia atau pertumbuhan yang lambat. Pola umum dari Penyakit Crohn, Gejala-gejala Penyakit Crohn pada setiap penderitanya berbeda, tetapi ada 4 pola yang umum terjadi, yaitu :
1.      Peradangan : nyeri dan nyeri tekan di perut bawah sebelah kanan
2.      Penyumbatan usus akut yang berulang, yang menyebabkan kejang dan nyeri hebat di dinding usus,   pembengkakan perut, sembelit dan muntah-muntah
3.      Peradangan dan penyumbatan usus parsial menahun, yang menyebabkan kurang gizi dan kelemahan menahun
4.      Pembentukan saluran abnormal (fistula) dan kantung infeksi berisi nanah (abses), yang sering menyebabkan demam, adanya massa dalam perut yang terasa nyeri dan penurunan berat badan.
Gejala klinis yang paling sering timbul adalah sebagai berikut :
1.      Nyeri abdomen
2.      Diare yang tidak hilang dengan defekasi, terjadi pada 90% pasien .
3.      Jaringan parut dan pembentukan granuloma mempengaruhi kemampuan usus untuk menstranspor produk dari pencernaan usus atas melalui lumen terkonstriksi mengakibatkan nyeri abdomen seperti kram . karena peristaltic usus di rangsang oleh makanan, nyeri terjadi setelah makan. Untuk menghindari nyeri, pasien cenderung untuk membatasi masukan makanan , mengurangi jumlah dan jenis makanan sehingga kebutuhan nutrisi normal tidak terpenuhi.
4.      Penurunan berat badan ,malnutrisi, 3nemia sekunder.akibatnya individu menjadi kurus karena masukan makanan tidak adekuat dan cairan hilang secara terus-menerus.
5.      Usus yang terinflamasi dapat mengalami perforasi dan membentuk abses anal dan intra-abdomen . terjadi demam dan leukositosis. Abses ,fistula, dan fisura umum terjadi.
6.      Perjalan klinis dan gejala bervariasi. Pada beberapa pasien terjadi periode remisi dan eksaserbasi, sementara yang lain mengikuti beratnya penyebab.
7.      Gejala meluas keseluruhan saluran gastrointestinal dan umumnya mencakup masalah sendi (arthritis), lesi kulit (eritema nodosum), gangguan okuler (konjungtivitis), ulkus oral. (brunner&suddarth, keperawatan medical bedah.vol 2:1105)
6.      PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kram perut yang terasa nyeri dan diare berulang, terutama pada penderita yang juga memiliki peradangan pada sendi, mata dan kulit. Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendeteksi Penyakit Crohn, namun pemeriksaan darah bisa menunjukan adanya :
1.      Anemia.
2.      Peningkatan abnormal dari jumlah sel darah putih.
3.      Kadar albumin yang rendah
4.      Tanda-tanda peradangan lainnya:
    1. Hitung darah lengkap dilakukan untuk mengkaji hematokrit dan kadar hemoglobin (yang biasanya menurun) serta hitung sel darah putih (yang mungkin meningkat). Laju sedimentasi biasanya meningkat. Kadar albumin dan protein mungkin menurun, menunjukan malnutrisi.
    2. Pemeriksaan barium dari saluran gastroentestinal atas menunjukan ”tanda garis” klasik pada sinar-x dari ileum terminalis, menunjukan konstruksi segmen usus.enema barium juga dapat menunjukan adanya ulserasi dan ”coblestone” serta adanya fisura dan fisula. Enema  bisa menunjukkan gambaran yang khas untuk Penyakit Crohn pada usus besar. Pemindaian CT dapat menunjukan adanya penebalan dinding usus dan fistula saluran
Jika masih belum pasti, bisa dilakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) dan biopsi untuk memperkuat diagnosis. CT scan bisa memperlihatkan perubahan di dinding usus dan menemukan adanya abses,  namun tidak digunakan secara rutin sebagai pemeriksaan diagnostik awal. Pemeriksaan proktosigmoidoskopi biasanya dilakukan diawal, untuk menentukan apakah area rektosigmoid terinflamasi. Pemeriksaan feses juga dilakukan dan mungkin positif untuk darah samar dan steatorea (kelebihan lemak dan feses).

7.      PENATALAKSANAAN MEDIS
Pada dasarnya pengobatan medis-konservatif dengan diit dan obat-obat lebih baik dari pada pembedahan.
1.      Masukan Diet dan Cairan :  cairan oral, diet rendah residu-tinggi protein-tinggi kalori, dan terapi suplemen vitamin dan pengganti besi diberikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
2.      Terapi Obat-obatan, seperti  :
a.       Obat sedatif dan antidiare/antiperistaltik digunakan untuk mengurangi peristaltik sampai minimum untuk mengistirahatkan usus yang terinflamasi. Sulfonamida seperti sulfasalazin (azulfidine) atau sulfisoxazol(gastrisin) biasanya efektif untuk menangani inflamasi ringan atau sedang.
b.      Antibiotik digunakan untuk infeksi sekunder, terutama untuk komplikasi purulen seperti abses, perforasi dan peritonitis, azulfudin membantu dalam mencegah kekambuhan.
c.       Hormon adenokortikopik parental (ACTH) dan kortikosteroid efektif dalam pengobatan penyakit usus inflamasi akut. Bila kortikostroid dikurangi atau dihentikan, gejala penyakit dapat berulang. Bila kortikosteroid dilanjutkan, gejala sisa merugikan seperti hipertensi, retensi cairan, katarak, hirsutisme (pertumbuhan rambut abnormal)dan supresi adrenal dapat terjadi.
d.      Aminosalisilat topikal dan oral terbaru (misal Mesalamin {asacol}, olsalazin{dipentum}telah terbukti sangat efektif dalam pengobatan). Preparat imunosupresif juga digunakan preparat ini membantu untuk mencegah kekambuhan dan kemungkinan pasien untuk menerim kortikosteroid dosis rendah untuk periode waktu lebih pendek.
e.       Psikoterapi ditujukan untuk menentukan faktor yang menyebabkan stress pada pasien, kemampuan menghadapi faktor-faktor ini, dan upaya untuk mengatasi konflik sehingga mereka tidak berkabung karena kondisi mereka.

8.      PENGKAJIAN KEPERAWATAN
a.       Pengkajian Subjektif
1)      Riwayat kesehatan diambil untuk mengidentifikasi awitan, durasi, dan karakteristik nyeri abdomen; diare, tenesmus, mual, anoreksia, penurunan BB.
2)      Riwayat keluarga tentang penyakit usus inflamasi
3)      Pola diet : jumlah Alkohol, kafein, dan nikotin yang dipakai setiap hari atau setiap minggu.
4)      Pola eliminasi : karakter, frekuensi, dan adanya darah, pus, lemak, atau mukus.
5)      Alergi : intoleransi usus atau laktose.
6)      Kaji gangguan pola tidur bila diare atau nyeri terjadi pada malam hari.
b.      Pengkajian Objektif
1)      Auskultasi abdomen terhadap bising usus dan karakteristiknya.
2)      Palpasi abdomen terhadap distensi, nyeri tekan, atau nyeri.
3)      Inspeksi kulit terhadap adanya saluran fistula atau gejala dehidrasi.
4)      Feses di inspeksi terhadap adanya darah dan mucus.
Pemeriksaan Penunjang
a.       Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium adalah kadar hemoglobin, hematokrit, kadar besi serum untuk menilai kehilangan darah dalam usus, laju endap darah untuk menilai aktivitas inflamasi serta kadar alumin serum untuk status nutrisi, serta C reactive protein yang dapat dipakai juga sebagai parameter aktivitas penyakit
b.      Endoscopy
Penyakit crohn dapat bersifat transmural, segmental dan dapat terjadi disaluran cerna bagian atas, usus halus ataupun colon.
c.       Radiologi
Barium kontas ganda dapat memperlihatkan striktur, fistula, mukosa yang iregular, gambaran ulkus dan polip, ataupun perubahan distenbilitas lumen kolon berupa penebalan dinding usus. Peran Ct Scan dan ultrasonografi lebih banyak ditujukan pada penyakit crohn dalam mendeteksi adanya bases ataupu fistula.
d.      Histopatologi
Spesimen yang berasal dari operasi lebih mempunyai nilai diagnostik daripada spesimenyang diambil secara biopsi per – endoskopik. Terlebih lagi bagi penyakit crohn yang lesinya bersifat transmural sehingga tidak dapat dijangkau dengan teknik biopsi per-endoscopik. Gambaran khas untuk penyakit crohn adanya granuloma tuberculoid (terdapat 20 – 40% kasus) merupakan hal yang karakteristik disampung adanya infiltrasi sel makrofag dan limfosit di lamina profia serta ulserasi yang dalam.
e.       MRI
Dapat lebih unggul daripada Ct Scan dalam menunjukkan lesi panggul. Oleh karena kadar air diverensia, MRI dapat mebedakan peradangan aktif dari fibrosis dan dapat membedakan antara inflamasi serta lesi fibrostenosis penyakit crohn.


f.       Colonoscopy
Dapat membantu ketika barium enema satu kontras belum informatif dalam mengevalusia sebuah lesi kolon. Kolonoscopy berguna dalam memperoleh jaringan biopsi, yang membantu dalam diferensiasi penyakit lain, dalam evaluasi lesi masa, dan dalam pelaksanaan surveilans kanker. Colonoscopy juga memungkinkan mefisualisasi fibrosis striktur pada pasien dengan penyakit kronis. Selain itu, colonoscopy juga dapat digunakan dalam periode pasca operasi bedah untuk mengevaluasi anastomosis dan meprediksi kemungkinan kambuh klinis serta respon terhadap terapi pasca operasi.

9.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.   Nyeri b.d iritasi nitestinal, kram abdomen dan respon pembedahan
2.   Resiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit  b.d pengeluaran cairan dari muntah yang berlebihan
3.   Resiko ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakadekuatan intake nutrisi sekunder akibat nyeri, ketidaknyamana lambung dan intestinal
4.    Resiko infeksi b.d adanya luka pasca bedah
5.    Ansietas b.d prognosis penyakit dan rencana pembedahan
     
10.  INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx.Keperawatan
Tujuan dan Kreteria Hasil
Intervensi
Rasional
1 Nyeri b.d iritasi nitestinal, kram abdomen dan respon pembedahan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah keperawatan nyeri dapat teratasi dengan kreteria hasil sebagai berikut :
     a. Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang
   b. Ekspresi wajah pasien tenang dan rileks
     c. Dapat mengidentifikasi kegiatan yang dapat menambah atau mengurangi nyeri
     d. Pasien tidak gelisah
     e.Skala nyeri turun
0 – 4
     1.Kaji skala nyeri (0 – 4)










  2. Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi



    3.Istirahatkan pasien




  4.Ajarkan teknik distraksi



 5. Manajemen pemberian diet dan menghindari agen iritan mukosa lambung





  6.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida sesuai dosis
    1.Perawat mengkaji tingkat nyeri dan dan kenyamanan pasien setelah penggunaan obat – obatan dan menghindari zat pengiritasi
   pendekatan dengan menggunakan

  2.Relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri
 
       3.Istirahat secara fisiologis dapat menurunkan kebutuhan oksigen

       4.Distraksi dapat menurunkan stim ulus internal

  5.Dengan menghindari makan dan minuman yang dapat mengiritasi mukosa lambung dapat menurunkan intensitas nyeri
  
6.Antasid untuk mempertahankan Ph lambung pada tingkat normal (4,5)
2.   Resiko ketidakseimbangan cairan b.d pengeluaran cairan dari muntah yang berlebihan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, masalah cairan dan elektrolit dapat teratasi dengan kreteria hasil sebagai berikut :
   a. membran mukosa lembab, turgor kulit normal
   b.TTV dalam batas normal
 c.Output >600ml/hari
   d.Laboratorium : nilai elektrolit normal








a.  1.Monitor TTV






  2.Monitor status cairan (membran mukosa, turgor kulit dan output urin)


  3.Kaji sumber kehilangan cairan



4.Manajemen pemberian cairan











5.Kolaborasi untuk pemberian diuresis
    1.Mengetahui keadaan umum pasien, hipotensi datap terjadi pada kondisi hipovolemia
 
          2..Jumlah dan tipe cairan pengganti ditentukan dari keadaan status cairan.
 
    3..Penurunan volume cairan mengakibatkan menurunnya
   
    4.Produksi urin. Monitor dilakukan dengan ketat pada produksi urin Kehilangan caairan dan muntah dapat disertai dengan keluarnya natrium per oral yang juga akan meningkatkan risiko gangguan elektrolit

  5.Intake dan output cairan setiap hari dipantau untuk mendeteksi tanda – tanda awal terjadinya dehidrasi
3.   Resiko ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakadekuatan intake nutrisi sekunder akibat nyeri, ketidaknyamana lambung dan intestinal
Setelah dilakukan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan ketidakseimbangan nutrisi dapat teratasi dengan kreteria hasil sebagai berikut :
1.   a.Pasien dapat mempertahankan asupan status nutrisi yang adekuat
2.   b.Pernyataan motivasi yang kuat untuk meningkatkan kebutuhan nutrisinya
  1.Kaji status nutrisi pasien, turgor kulit, berat badan dan penurunan berat badan


2.Fasilitasi pasien memperoleh diit biasa yang dikonsumsi pasien setiap hari


 3.Pantau intake dan output, anjurkan untuk timbang berat badan secara periodik


   4. Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan




  5. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diit yang seimbang






  6.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian anti muntah sesuai dosis
  1.Menetapkan derajad masalah untuk menetapkan pilihan intervensi yang tepat

 2.Memperhitungkan keinginan individu agar dapat memperbaiki nutrisi
  
     3. Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan.
 
          4.Menurunkan rasa tidak enak karena sisa makanan dan bau obat yang dapat merangsang pusat muntah

    5.Merencanakan deit dengan kandungan nutrisi yang adekuat untuk memenuhi pengingkatan kebutuhan energi dan kalori
    6.Meningkatkan rasa nyaman pada gastrointestinal dan meningkatkan keinginan intake nutrisi dan cairan per oral
4.  Resiko infeksi b.d adanya luka pasca bedah
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan resti infeksi dapat teratasi dengan kreteria hasil sebagai berikut :
  a. Tanpa adanya infeksi dan tanda – tanda kemerahan setelah jahitan dilepas
    b. TTV terutama suhu dalam batas normal
a.  1. Kaji TTV




b.   2. Kaji jenis pembedahan





  3. Lakukan perawatan luka pada hari ke dua pasca bedah





   4. Bersihkan luka pada saat setiap perawatan luka




  5. Tutup luka dengan kassa steril




    6. Berikan penkes kepada keluarga pasien dan pasien cara perawatan luka yang benar dan steril



  7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian anti infeksi sesuai dosis
    1. Suhu dapat ikut naik jika pasien terjadi inflamasi dan infeksi
   
      2. Menidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari tujuan yang diharapkan.

    3. Perawatan luka sebaiknya tidak setiap hari untuk menurunkan kontak dengan luka yang dalam kondisi steril
 
            4.Pembersihan debridemen dapat mencegah kontaminasi kuman ke jaringan luar
  
          5.Penutupan secara menyeluruh dapat menghindari kontaminasi dari benda atau udara
   
      6.Pemberian penkes diharapkan bisa lenih memberikan pemenuhan informasi bagi keluarga.

    7.Tindakan kolaborasi dilakukan dengan tujuan untuk lebih optimal dalam pengobatan
5.  Ansietas b.d prognosis penyakit dan rencana pembedahan
Setelah dilakukan keperawatan selama 3x24 jam, masalah keperawatan kecemasan dapat teratasi dengan kreteria hasil sebagai berikut :
   a. Pasien mampu mgnungkapkan perasaan kepada perawat
    b. Pasien dapat mencatat penurunan kecemasan atau ketakutan
    c. Pasien dapat rileks dan tidur dengan nyaman
a. 1. Monitor respon fisik, seperti kelelahan, perubahan tanda vital dan gerakan yang berulang – ulang



2.Anjurkan pasien dan keluarga mengungkapkan dan mengekspresikan rasa takutnya



3.Catat reaksi pasien atau keluarga. Berikan kesempatan utnuk mengungkapkan perasaannya


4.Ajarka aktivitas pengalihan perhatian sesuai kemampuan individu seperti menulis, menonton tv, dll
  1. Digunakan untuk mengevaluasi derajad atau tingkat kesadaran, khusunya jika melakukan komunikasi verbal

  2.Memberikan kesempatan untuk berkosentrasi kejadian dari rasa takut, dan mengurangi cemas yang berlebihan

  3.Respon dari kecemasan anggota keluarga terhadap apa yang terjadi dapat disampaikan kepada perawat

          4.Sejumlah aktivitas atau ketrampilan dapat menurunkan tingkat kebosanan yang dapat menjadi stumulus kecemasan





DAFTAR PUSTAKA
            Mansjoer, arif dan kuspuji triyanti, dkk.2001.Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 1.Jakarta : Media Aesculapius.
            Price, and Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Penyakit Klinis Proses-Proses Penyakit.Jakarta:EGC
            Soeparman,sarwono wasparji. 1990. Ilmu Penyakit dalam Jilid 2. Balai penerbit FKUI: Jakarta
            Smeltzer, Suzanne C. 2001. BUKU AJAR Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Vol. 2. Jakarta : EGC
           Wilkinson, Judith M. Buku Saku Diagnosa Keperawatan : Diagnosa NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Alih Bahasa : Esty Wahyuningsih ; Editor edisi  Bahasa Indonesia : Dwi Widiarti. Ed. 9. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar