Kamis, 02 Oktober 2014

ETIKA DAN HUKUM DALAM KEPERAWATAN GAWATDARURAT

ETIKA DAN HUKUM DALAM KEPERAWATAN GAWATDARURAT

   A.    PENDAHULUAN
Sebagai suatu profesi , keperawatan memiliki unsur – unsur penting yang bertujuan mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan yaitu respon manusia sebagai fokus telaahan, kebutuhan dasar manusia sebagai lingkup garapan keperawatan dan kurang perawatan diri merupakan basis intervensi keperawatan baik akibat tuntutan akan kemandirian atau kurangnya kemampuan.
Keperawatan juga merupakan serangkaian kegiatan yang bersifat terapeutik atau kegiatan praktik keperawatan yang memiliki efek penyembuhan terhadap kesehatan (Susan, 1994 : 80).Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan (UU Kesehatan No. 23, 1992).
Menurut Effendy (1995), perawatan adalah pelayanan essensial yang diberikan oleh perawat terhadap individu, keluarga dan masyarakat. Pelayanan yang diberikan adalah upaya mencapai derajat kesehatan semaksimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimiliki dalam menjalankan kegiatan di bidang promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan menggunakan proses keperawatan.
Merawat mempunyai suatu posisi sentral. Merawat merupakan suatu kegiatan dalam ruang lingkup yang luas yang dapat menyangkut diri kita sendiri, menyangkut sesuatu yang lain dan menyangkut lingkungan. Jika kita merawat sesuatu, kita menginginkan hasil yang dicapai akan memuaskan. Jadi kita akan selalu berusaha untuk mencapai sesuatu keseimbangan antara keinginan kita dan hasil yang akan diperoleh.
Gawat adalah suatu kondisi dimana korban harus segera ditolong apabila tidak segera di tolong akan mengalami kecacatan atau kematian. Sedangkan, darurat adalah suatu kondisi dimana korban harus segera di tolong tapi penundaan pertolongan tidak akan menyebabkan kematian / kecacatan. Sehingga. Effendy (1995), mendefinisikan perawatan kegawat daruratan adalah pelayanan profesioanal keperawatan yang di berikan pada pasien dengan kebutuhan urgen dan kritis.

LATAR BELAKANG KEPERAWATAN KOMUNITAS PANTAI


LATAR BELAKANG KEPERAWATAN KOMUNITAS PANTAI

  1. PENDAHULUAN
Keperawatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan pada masyarakat dengan penekanan kelompok risiko tinggi dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemeliharaan rehabilitasi dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagi mitra dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan keperawatan (CHN, 1977). Pantai merupakan salah satu tempat wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara.
Dari definisi tersebut keperawatan komunitas pantai merupakan pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan pada masyarakat atau pun wisatawan local dan internasional yang sedang berwisata di daerah pantai pada khususnya,  dengan penekanan kelompok risiko tinggi dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal.
Tujuan umum pelayanan inovatif ini adalah memberikan pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta rujukan kepada wisatawan lokal dan wisatawan asing itu sendiri.
1.      Konsep-Konsep Kunci
a.       Latar Belakang Terbentuknya Keperawatan Komunitas Pantai
b.      Definisi Keperawatan Komunitas Pantai
c.       Tujuan Keperawatan Komunitas Pantai
d.      Manfaat Pelayanan Keperawatan Komunitas Pantai
e.       Sasaran Pelayanan Keperawatan Komunitas Pantai
f.       Manfaat komunitas pantai

Rabu, 30 Juli 2014

Personal Hygiene



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pemeliharaan kebersihan diri sangat menentukan status kesehatan, di mana individu secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit.Upaya ini lebih menguntungkan bagi individu karena lebih hemat biaya, tenaga dan waktu dalam mewujudkan kesejahteraan dan kesehatan.Upaya pemeliharaan kebersihan diri mencakup tentang kebersihan rambut, mata, telinga, gigi, mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian. Dalam upaya pemeliharaan kebersihan diri ini, pengetahuan keluarga akan pentingnya kebersihan diri tersebut sangat diperlukan. Karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,1997).
Hardywinoto (2005) mengatakan yang dimaksud dengan kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas perawatan diri adalah: faktor yang ditentukan oleh keadaan masa lalu, situasi lingkungan, lingkungan dimana kita tinggal serta faktor-faktor pribadi (Steven et al,2002). Lansia perlu mendapatkan perhatian dengan mengupayakan agar mereka tidak terlalu tergantung kepada orang lain dan mampu mengurus diri sendiri (mandiri), menjaga kesehatan diri, yang tentunya merupakan kewajiban dari keluarga dan lingkungannya (Siburia,2002). Sejalan dengan kemunduran fisiknya lansia membutuhkan pertolongan dari keluarga untuk memenuhi kebersihan diri.

Konsep Budaya, Antropologi, dan Paradigma Keperawatan Transkultural



KONSEP BUDAYA, ANTROPOLOGI, DAN PARADIGMA KEPERAWATAN TRANSKULTURAL


Oleh :
KELOMPOK VIII Tk. 1.1
1.      Ni Made Cintia Pratiwi                             (P07120013036)
2.      Ni Wayan Karina Sukarma Putri              (P07120013037)
3.      Rossalina Dewi                                         (P07120013038)
4.      Komang Tri Cahyani                                 (P07120013039)
5.      Ni Wayan Pebriyanti                                 (P07120013040)





POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN DENPASAR
2013

PERKEMBANGAN KEPERAWATAN INDONESIA DI MASA YANG AKAN DATANG



PERKEMBANGAN KEPERAWATAN INDONESIA DI MASA YANG AKAN DATANG



Oleh :
KELOMPOK VIII Tk. 1.1
1.      Ni Made Cintia Pratiwi
2.      Ni Wayan Karina Sukarma Putri
3.      Rossalina Dewi
4.      Komang Tri Cahyani
5.      Ni Wayan Pebriyanti




POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN DENPASAR
2013