Rabu, 30 Juli 2014

Personal Hygiene



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pemeliharaan kebersihan diri sangat menentukan status kesehatan, di mana individu secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit.Upaya ini lebih menguntungkan bagi individu karena lebih hemat biaya, tenaga dan waktu dalam mewujudkan kesejahteraan dan kesehatan.Upaya pemeliharaan kebersihan diri mencakup tentang kebersihan rambut, mata, telinga, gigi, mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian. Dalam upaya pemeliharaan kebersihan diri ini, pengetahuan keluarga akan pentingnya kebersihan diri tersebut sangat diperlukan. Karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,1997).
Hardywinoto (2005) mengatakan yang dimaksud dengan kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas perawatan diri adalah: faktor yang ditentukan oleh keadaan masa lalu, situasi lingkungan, lingkungan dimana kita tinggal serta faktor-faktor pribadi (Steven et al,2002). Lansia perlu mendapatkan perhatian dengan mengupayakan agar mereka tidak terlalu tergantung kepada orang lain dan mampu mengurus diri sendiri (mandiri), menjaga kesehatan diri, yang tentunya merupakan kewajiban dari keluarga dan lingkungannya (Siburia,2002). Sejalan dengan kemunduran fisiknya lansia membutuhkan pertolongan dari keluarga untuk memenuhi kebersihan diri.




1.2  Rumusan Masalah

1.    Apa definisi dari askep?
2.    Apa tujuan dari askep ?
3.    Apa fungsi dari askep ?
4.    Bagaimana tahap-tahap dari pembuatan askep ?
5.    Apa pengertian personal hygiene?
6.    Apa tujuan dariPersonal Hygiene?
7.    Apa saja jenis-jenis Personal Hygiene?
8.    Apa saja factor yang mempengaruhi Personal Hygiene ?
9.    Apa saja dampak dari Personal Hygiene ?
10. Bagaimana langkah-langkah askep Personal Hygiene ?
11. Apa saja SOP dalam pemenuhan Personal Hygiene ?

1.3  Tujuan

1.    Untuk mengetahui definisi dari askep.
2.    Untuk mengetahui tujuan dari askep.
3.    Untuk mengetahui fungsi dari askep.
4.    Untuk mengetahui tahap-tahap pembuatan askep.
5.    Untuk mengetahui pengertianpersonal hygiene.
6.    Untuk mengetahui tujuanPersonal Hygiene.
7.    Untuk mengetahu jenis-jenisPersonal Hygiene.
8.    Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi Personal Hygiene.
9.    Untuk mengetahui dampak dari Personal Hygiene.
10.  Untuk mengetahui cara pembuatan askep Personal Hygiene.
11.  Untuk mengetahui SOP dalam pemenuhan kebutuhan Personal Hygiene.



BAB II
KAJIAN TEORI
A. Asuhan keperawatan
2.1 Definisi Askep
Asuhan Keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien/ pasien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah Keperawatan sebagai suatu profesi yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, bersifat humanistic,dan berdasarkan pada kebutuhan objektif klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien.
Menurut Ali (1997) Proses Keperawatan adalah metode Asuhan Keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan terus-menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien/klien, dimulai dari Pengkajian (Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah) Diagnosis Keperawatan, Pelaksanaan dan Penilaian Tindakan Keperawatan (evaluasi).
Asuhan keperawatan diberikan dalam upaya memenuhi kebutuhan klien. Menurut Abraham Maslow ada lima kebutuhan dasar manusia yaitu:
  • Kebutuhan fisiologis meliputi oksigen, cairan, nutrisi
  • Kebutuhan rasa aman dan perlindungan
  • Kebutuhan rasa cinta dan saling memiliki
  • Kebutuhan akan harga diri
  • Kebutuhan aktualisasi diri
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Asuhan Keperawatan merupakan seluruh rangkaian proses keperawatan yang diberikan kepada pasien yang berkesinambungan dengan kiat-kiat keperawatan yang di mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi dalam usaha memperbaiki ataupun memelihara derajat kesehatan yang optimal. 
2.2 Tujuan Asuhan Keperawatan
Adapun tujuan dalam pemberian asuhan keperawatan antara lain:
  • Membantu individu untuk mandiri
  • Mengajak individu atau masyarakat berpartisipasi dalam bidang kesehatan
  • Membantu individu mengembangkan potensi untuk memelihara kesehatan secara optimal agar tidak tergantung pada orang lain dalam memelihara kesehatannya
  • Membantu individu memperoleh derajat kesehatan yang optimal

2.3 Fungsi Proses Keperawatan
Proses Keperawatan berfungsi sebagai berikut:
  • Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi tenaga keperawatan dalam memecahkan masalah klien melalui asuhan keperawatan .
  • Memberi ciri profesionalisasi asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah dan pendekatan komunikasi yang efektif dan efisien.
  • Memberi kebebasan pada klien untuk mendapat pelayanan yang optimal sesuai dengan kebutuhanya dalam kemandirianya di bidang kesehatan.
2.4 Tahap-Tahap Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang di hadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan.tahap ini mencakup tiga kegiatan,yaitu Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah kesehatan serta keperawatan.
a. Pengumpulan data
Tujuan :
Diperoleh data dan informasi mengenai masalah kesehatan yang ada pada pasien sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya.Data tersebut harus akurat dan mudah dianalisis.
Jenis data antara lain:
  • Data Objektif, yaitu data yang diperoleh melalui suatu pengukuran, pemeriksaan, dan pengamatan, misalnya suhu tubuh, tekanan darah, serta warna kulit.
  • Data subjekif, yaitu data yang diperoleh dari keluhan yang dirasakan pasien, atau dari keluarga pasien/saksi lain misalnya; kepala pusing, nyeri dan mual.
Adapun focus dalam pengumpulan data meliputi :
  • Status kesehatan sebelumnya dan sekarang
  • Pola koping sebelumnya dan sekarang
  • Fungsi status sebelumnya dan sekarang
  • Respon terhadap terapi medis dan tindakan keperawatan
  • Resiko untuk masalah potensial
  • Hal-hal yang menjadi dorongan atau kekuatan klien

b. Analisa data
Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berpikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan.
c. Perumusan masalah
Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa masalah kesehatan.Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat diintervensi dengan Asuhan Keperawatan (Masalah Keperawatan) tetapi ada juga yang tidak dan lebih memerlukan tindakan medis.Selanjutnya disusun Diagnosis Keperawatan sesuai dengan prioritas.
Prioritas masalah ditentukan berdasarkan kriteria penting dan segera.
Penting mencakup kegawatan dan apabila tidak diatasi akan menimbulkan komplikasi, sedangkan Segera mencakup waktu misalnya pada pasien stroke yang tidak sadar maka tindakan harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih parah atau kematian.
Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut Maslow, yaitu : Keadaan yang mengancam kehidupan, keadaan yang mengancam kesehatan, persepsi tentang kesehatan dan keperawatan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito,2000).
Perumusan diagnosa keperawatan :
  • Actual :Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditemukan.
  • Resiko:Menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi.
  • Kemungkinan : Menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan.
  • Wellness : Keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi.
  • Syndrom : diagnose yang terdiri dar kelompok diagnosa keperawatan actual dan resiko tinggi yang diperkirakan muncul/timbul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.

3. Rencana keperawatan
Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di uraikan dalam hasil yang di harapkan (Gordon,1994).
Merupakan pedoman tertulis untuk perawatan klien.Rencana perawatan terorganisasi sehingga setiap perawat dapat dengan cepat mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan.Rencana asuhan keperawatan yang di rumuskan dengan tepat memfasilitasi konyinuitas asuhan perawatan dari satu perawat ke perawat lainnya.Sebagai hasil, semua perawat mempunyai kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas tinggi dan konsisten.
Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur pertukaran informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas. Rencana perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka panjang(potter,1997)
4. Implementasi keperawatan
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.Tahap pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.
Adapun tahap-tahap dalam tindakan keperawatan adalah sebagai berikut :
  • Tahap 1 : persiapan
Tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat untuk mengevaluasi yang diindentifikasi pada tahap perencanaan.
  • Tahap 2 : intervensi
Focus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan dan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan : independen,dependen,dan interdependen.
  • Tahap 3 : dokumentasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.


5. Evaluasi
Perencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman/rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di rumuskan sebelumnya.
Sasaran evaluasi adalah sebagai berikut:
  • Proses asuhan keperawatan, berdasarkan criteria/ rencana yang telah disusun.
  • Hasil tindakan keperawatan ,berdasarkan criteria keberhasilan yang telah di rumuskan dalam rencana evaluasi.
Hasil Evaluasi :
Terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu :
1.      Tujuan tercapai,apabila pasien telah menunjukan perbaikan/ kemajuan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
2.      Tujuan tercapai sebagian,apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga perlu di cari penyebab dan cara mengatasinya.
3.      Tujuan tidak tercapai, apabila pasien tidak menunjukan perubahan/kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah baru.dalam hal ini perawat perlu untuk mengkaji secara lebih mendalam apakah terdapat data, analisis, diagnosa, tindakan, dan faktor-faktor lain yang tidak sesuai yang menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan.
B.       Personal Hygiene
3.1 Pengertian Personal Hygiene
Personal hygiene berasal dari bahasaYunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat.Kebersihanseseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihandan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.
Menurut beberapa ahli :
a.       Sjarifuddin
Personal hygiene adalah kesehatan pada seseorang atau perseorangan.Sjarifudin.1979 (dalam Basyar.2005).

b.      Efendy
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan halyang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihanakan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan.Hal-hal yang sangat berpengaruh itu di antaranya kebudayaan,sosial, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta tingkat perkembangan. (dalam Astutiningsih, 2006)
c.       Depkes
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalammemenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya,kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, kliendinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000).
d.      Nurjannah
Defisit perawatan diri adalah gangguankemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias,makan, toileting).
e.       Poter & Perry
Menurut Poter & Perry (2005), personal hygiene adalah suatutindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisidimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya (dalam Tarwoto dan Wartonah 2006 )
Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan.Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.Karena itu hendaknya setiap orang selalu berusaha supayapersonal hygiennya dipelihara dan ditingkatkan.Kebersihan dankerapian sangat penting dan diperlukan agar seseorang disenangidan diterima dalam pergaulan, tetapi juga karena kebersihan diperlukan agar seseorang dapat hidup secara sehat.

3.2 Tujuan Pemenuhan Kebutuhan Personal Hygiene
Tujuan dari personal hygiene adalah (Tarwoto, 2004):
1.      Meningkatkan derajat kesehatan seseorang
2.      Memelihara kebersihan diri seseorang
3.      Memperbaiki personal hygiene yang kurang
4.      Mencegah penyakit
5.      Menciptakan keindahan
6.      Meningkatkan rasa percaya diri

3.3 JenisPersonal Hygiene
3.3.1 Berdasarkan Waktu pelaksanaan
Menurut Alimul (2006) personal hygiene berdasarkan waktu pelaksanaannyadibagi menjadi empat yaitu:
a.    Perawatan dini hari
Merupakan personal hygiene yang dilakukan pada waktubangun tidur, untuk melakukan tindakan untuk tes yang terjadwal seperti dalam pengambilan bahan pemeriksaan (urine atau feses), memberikan pertolongan seperti menawarkan bedpan atau urinal jika pasien tidak mampu ambulasi, mempersiap kanpasien dalam melakukan sarapan atau makan pagi dengan melakukan tindakan personal hygiene, seperti mencuci muka, tangan, menjaga kebersihan mulut, 
b.    Perawatan pagi hari
merupakan personal hygiene yang dilakukan setelah melakukan sarapan atau makan pagi seperti melakukan pertolongan dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi (BAB / BAK), mandi atau mencuci rambut, melakukan perawatan kulit, melakukan pijatan pada punggung, membersihkan mulut, kuku, rambut, serta merapikan tempat tidur pasien. Hal ini sering disebut sebagai perawatan pagi yang lengkap.
c.    Perawatan siang hari
Merupakan personal hygiene yang dilakukan setelahmelakukan berbagai tindakan pengobatan atau pemeriksaan dan setelah makan siangdimana pasien yang dirawat di rumah sakit seringkali menjalani banyak tes diagnostik yang melelahkan atau prosedur di pagi hari. Berbagai tindakan  personal hygiene yang dapat dilakukan, antara lain mencuci muka dan tangan, membersihkanmulut, merapikan tempat tidur, dan melakukan pemeliharaan kebersihan lingkungankesehatan pasien.
d.   Perawatan menjelang tidur
Merupakan personal hygiene yang dilakukanpada saat menjelang tidur agar pasien relaks sehingga dapat tidur atau istirahat dengantenang. Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan, antara lain pemenuhan kebutuhaneliminasi (BAB / BAK), mencuci tangan dan muka, membersihkan mulut, danmemijat daerah punggung.

3.3.2 Berdasarkan Tempat
a.    Perawatan kulit
Kulit merupakan organ aktif yang berfungsi sebagai pelindung dari berbagai kuman atau trauma, sekresi, eksresi, pengatur temperature, dan sensasi, sehingga diperlukan perawatan yang adekuat dalam mempertahankan fungsinya.Kulit memiliki 3 lapisan utama yaitu epidermis, dermis, dan subkutan.Ketika pasien tidak mampu atau melakukan perawatan kulit pribadi maka perawat memberikan bantuan atau mengajarkan keluarga bagaimana melaksanakan personal higiene. Seorang pasien yang tidak mampu bergerak bebas karena penyakit akan beresiko terjadinya kerusakan kulit. Bagian badan yang tergantung dan terpapar tekanan dari dasar permukaan tubuh (misalnya matrasi gips tubuh atau lapisan linen yang berkerut), akan mengurangi sirkulasi pada bagian tubuh yang terkena sehingga dapat menyebabkan dekubitus. Pelembab pada permukaan kulit merupakan media pertumbuhan bakteri dan menyebabkan iritasi lokal, menghaluskan sel epidermis, dan dapat menyebabkan maserasi kulit. Keringat, urine, material fekal berair, dan drainase luka dapat mengakumulasikan pada permukaan kulit dan akan menyebabkan kerusakan kulit dan
infeksi. Pasien yang menggunakan beberapa jenis alat eksternal pada kulit seperti gips, baju pengikat, pembalut, balutan, dan jaket ortopedik dapat menimbulkan tekanan atau friksi terhadap permukaan kulit sehinggga menyebabkan kerusakan kulit. Tujuan perawatan kulit adalah pasien akan memiliki kulit yang utuh, bebas bau badan, pasien dapat mempertahankan rentang gerak, merasa nyaman dan sejahtera, serta dapat berpartisifasi dan memahami metode perawatan kulit.

b.      Mandi
Memandikan pasien merupakan perawatan higienis total. Mandi dapat dikategorikan sebagai pembersihan atau terapeutik. Mandi ditempat tidur yang lengkap diperlukan bagi pasien dengan ketergantungan total dan memerlukan personal higiene total. Keluasan mandi pasien dan metode yang digunakan untuk mandi berdasarkan pada kemampuan fisik pasien dan kebutuhan tingkat hygiene yang dibutuhkan.Pasien yang bergantung dalam pemenuhan kebutuhanpersonal higiene, terbaring ditempat tidur dan tidak mampu mencapai semua anggota badan dapat memperoleh mandi sebagian di tempat tidur.Tujuan memandikan pasien di tempat tidur adalah untuk menjaga kebersihan tubuh, mengurangi infeksi akibat kulit kotor, memperlancar sistem peredaran darah, dan menambah kenyamanan pasien. Mandi dapat menghilangkan mikroorganisme dari kulit serta sekresi tubuh, menghilangkan bau tidak enak, memperbaiki sirkulasi darah ke kulit, dan membuat pasien merasa lebih rileks dan segar. Pasien dapat dimandikan setiap hari di rumah sakit. Namun, bila kulit pasien kering, mandi mungkin dibatasi sekali atau dua kali seminggu sehingga tidak akan menambah kulit menjadi kering.

      c. Hygiene mulut
 Pasien immobilisasi terlalu lemah untuk melakukan perawatan mulut, sebagai akibatnya mulut menjadi terlalu kering atau teriritasi dan menimbulkan bau tidak enak.Masalah ini dapat meningkat akibat penyakit atau medikasi yang digunakan pasien.Perawatan mulut harus dilakukan setiap hari dan bergantung terhadap keadaan mulut pasien. Gigi dan mulut merupakan bagian penting yang harus dipertahankan kebersihannya sebab melalui organ ini berbagai kuman dapat masuk.Hygiene mulut membantu mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi, dan bibir, menggosok membersihkan gigi dari partikel – partikel makanan, plak, bakteri, memasase gusi, dan mengurangi ketidaknyamanan yang dihasilkan dari bau dan rasa yang tidak nyaman. Beberapa penyakit yang mungkin muncul akibat perawatan gigi dan mulut yang buruk adalah karies, gingivitis (radang gusi), dan sariawan.Hygiene mulut yang baik memberikan rasa sehat dan selanjutnya menstimulasi nafsu makan. Tujuan perawatan hygiene mulut pasien adalah pasien akan memiliki mukosa mulut utuh yang terhidrasi baik serta untuk mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui mulut (misalnya tifus, hepatitis), mencegah penyakit mulut dan gigi, meningkatkan daya tahan tubuh, mencapai rasa nyaman, memahami praktik hygiene mulut dan mampu melakukan sendiri perawatanhygiene mulut dengan benar.

d.      Perawatan mata, hidung, dan telinga
Perhatian khusus diberikan untuk membersihkan mata, hidung, dan telinga selama pasien mandi. Secara normal tidak ada perawatan khusus yang diperlukan untuk mata karena secara terus – menerus dibersihkan oleh air mata, kelopak mata dan bulu mata mencegah masuknya partikel asing kedalam mata. Normalnya, telinga tidak terlalu memerlukan pembersihan.Namun, pasien dengan serumen yang terlalu banyak telinganya perlu dibersihlkan baik mandiri pasien atau dilakukan oeh perawat dan keluarga. Hygiene telinga mempunyai implikasi untuk ketajaman pendengaran. Bila benda asing berkumpul pada kanal telinga luar, maka akan mengganggu konduksi suara. Hidung berfungsi sebagai indera penciuman, memantau temperature dan kelembapan udara yang dihirup, serta mencegah masuknya partikel asing ke dalam sistem pernapasan.Pasien yang memiliki keterbatasan mobilisasi memerlukan bantuan perawat atau anggota keluarga untuk melakukan perawatan mata, hidung, dan telinga. Tujuan perawatan mata, hidung, dan telinga adalah pasien akan memiliki organ sensorik yang berfungsi normal, mata, hidung, dan telinga pasien akan bebas dari infeksi, dan pasien akan mampu melakukan perawatan mata, hidung, dan telinga sehari – hari.

e.     Perawatan rambut
            Penampilan dan kesejahteraan seseorang seringkali tergantung dari cara penampilan dan perasaan mengenai rambutnya. Penyakit atau ketidakmampuan mencegah seseorang untuk memelihara perawatan rambut seharisehari.Menyikat, menyisir dan bersampo adalah cara-cara dasar higienis perawatan rambut, distribusi pola rambut dapat menjadi indikator status kesehatan umum, perubahan hormonal, stress emosional maupun fisik, penuaan, infeksi dan penyakit tertentu atau obat obatan dapat mempengaruhi karakteristik rambut.Rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai proteksi serta pengatur suhu, melalui rambut perubahan status kesehatan diri dapat diidentifikasi.Penyakit atau ketidakmampuan menjadikan pasien tidak dapat memelihara perawatan rambut sehari – hari.Pasien immobilisasi rambutnya cenderung terlihat kusut.

f.      Perawatan kaki dan kuku
kaki dan kuku seringkali memerlukan perhatian khusus untuk mencegah infeksi, bau, dan cedera pada jaringan. Tetapi seringkali orang tidak sadar akan masalah kaki dan kuku sampai terjadi nyeri atau ketidaknyamanan. Menjaga kebersihan kuku penting dalam mempertahankan personal hygiene karena berbagai kuman dapat masuk kedalam tubuh melalui kuku.Oleh sebab itu, kuku seharusnya tetap dalam keadaan sehat dan bersih.

g.      Perawatan genitalia
perawatan genitalia merupakan bagian dari mandi lengkap. Pasien yang paling butuh perawatan genitalia yang teliti adalah pasien yang beresiko terbesar memperoleh infeksi.Pasien yang mampu melakukan perawatan diri dapat diizinkan untuk melakukannya sendiri.Perawat mungkin menjadi malu untuk memberikan perawatan genitalia, terutama pada pasien yang berlainan jenis kelamin.Tujuan perawatan genitalia adalah untuk mencegah terjadinya infeksi, mempertahankan kebersihan genitalia, meningkatkan kenyamanan serta mempertahankanpersonal higiene.

3.4FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI
a.       Citra tubuh
Penampilan umum klien dapat menggambarkan pentinya hygiene pada orang tersebut.Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya.Citra tubuh ini dapat sering berubah. Citra tubuh mempengaruhi cara mempertahankan hygiene. Jika seorang klien rapi sekali maka perawat mempertimbaagkan rincian kerapian ketika merencanakan keperawatan dan berkonsultasi pada klien sebelum membuat keputusan tentang bagaimana memberikan peraatan hygienis.Karena citra tubuh klien dapat berubah akibat pembedahan atau penyakit fisik maka perawat harus membuat suatu usaha ekstra untuk meningkatkan hygiene.
b.      Praktik sosial.
Kelompok-kelompok social wadah seorang klien berhubungan dapat mempengaruhi praktik hygiene pribadi.Selama masa kanak-kanak, kanak-kanak mendapatkan praktik hygiene dari orang tua mereka.Kebiasaan keluarga, jumlah orang dirumah, dan ketersediaan air panas dan atau air mengalir hanya merupakan beberapa faktok yang mempengaruhi perawatan kebersihan.
c.       Status sosio-ekonomi
sumber daya ekonomi seeorang mempengruhi jenis dan tingkat praktik kebersihan yang digunakan. Perawat hrus menentukan apakah klien dapat menyediakan bahan-bahan yang penting seperti deodorant, sampo, pasta gigi dan kometik.Perawat juga harus menentukan jika penggunaan produk-produk ini merupakan bagian dari kebiasaan social yang dipraktikkan oleh kelompok social klien.
d.      Pengetahuan
Pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene.Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup.Klien juga harus termotivasi untuk memelihara perawatan-diri.Seringkali, pembelajaran tentang penyakit atau kondisi mendorong klien untuk meningkatkan hygiene.Pembelajaran praktik tertentu yang diharapkan dan menguntungkan dalam mngurangi resiko kesehatan dapat memotifasi seeorang untuk memenuhi perawatan yang perlu.
e.       KebudayaanKepercayaan
kebudayaan klien dan nilai pribadi mempengaruhi perawatan hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti praktik keperawatan diri yang berbeda pula. Di asia kebersihan dipandang penting bagi kesehatan. Di Negara-negara eropa, bagaimanapun, hal ini biasa untuk mandi secara penuh hanya sekali dalam seminggu.
f.       Pilihan pribadi
Setiap klien memiliki keinginan individu dan pilihan tentang kapan untuk mandi, bercukur, dan melakukan perawatan rambut .klien memilih produk yang berbeda (mis. Sabun, sampo, deodorant, dan pasta gigi) menurut pilihan pribadi.
g.      Kondisi fisik.
Orang yang menderita penyakit tertentu (mis.Kanker tahap lanjut) atau menjalani operasi sering kali kekurangan energi fisik atau ketangkasan untuk melakukan hygiene pribadi.
h.      Peran Keluarga
Keluarga secara kuat mempengaruhi perilaku sehat setiap anggotanya begitu juga status kesehatan dari setiap individu mempengaruhi bagaimana fungsi unit keluarga dan kemampuan untuk mencapai tujuan.Pada saat kepuasan keluarga terpenuhi tujuannya melalui fungsi yang adekuat, anggota keluarga tersebut cenderung untuk merasa positif mengenai diri mereka sendiri dan keluarga mereka (Potter dan Ferry, 2005).

3.5. Dampak yang Sering Ditimbulkan
1.      Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik.Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.
2.      Dampak Psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan Personal Hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

C. Asuhan Keperawatan
4.1 ASKEP PERSONAL HYGIENE

a)  PENGKAJIAN
1.      Identitas klien
Nama
Jenis kelamin
Umur
Tempat tinggal
Status
2.      Riwayat kesehatan
·         RKS : lelah,badan bau,rambut kotor dan pemalas
·         RKD : apakah pernah sebelumnya mengalami deficit perawatan diri, dan apa-apa saja cara yang digunakan untuk mengatasi masalah ini.
·         RKK : adakah keluarga mengalami deficit perawatan diri sebelumnya.
3.      Keluhan utama : Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri.
4. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, kaji hygiene personal individu, mulai dari ekstermitas atas sampai bawah:
·         Rambut : Amati kondisi rambut (warna, tekstur, kualitas).
·         Kepala : Amati dengan seksama kebersihan kulit kepala. Perhatikan adanya ketombe, kebotakan, atau tanda-tanda kemerahan.
·         Mata : Amati adanya tanda-tanda ikterus., konjungtiva pucat, secret pada kelopak mata, kemerahan dan gatal-gatal pada kelopak mata.
·         Hidung : Amati kondisi kebersihan hidung, kaji adanya sinusitis, perdarahan hidung, tanda-tanda pilek yang tak kunjung sembuh, tanda-tanda alergi, atau perubahan pada daya penciuman.
·         Mulut : Amati kondisi mulut dan amati kelembapanya. Perhatikan adanya lesi, tanda-tanda radang gusi atau sariawan, kekeringan atau pecah-pecah.
·         Gigi : Amati kondisi dan kebersihan gigi. Perhatikan adanya tanda-tanda karang gigi, karies, gigi pecah-pecah, tidak lengkap atau gigi palsu.
·         Telinga : Amati kondisi dan kebersihan telinga. Perhatikan adanya serumen atau kotoran pada telinga, lesi, infeksi, atau perubahan pada daya pendengaran.
·         Kulit : Amati kondisi kulit (tekstur, turgor, kelembapan) dan kebersihannya. Perhatikan adanya perubahan warna kulit, stria, kulit keriput, lesi, atau pruritus.Kuku tangan&kaki            :Amati bentuk dan kebersihan kuku. Perhatikan adanya kelainan atau luka.
·         Genetalia :Amati kondisi dan kebersihan genetalia berikut area perineum. Perhatikan pola rambut pubis. Pada laki-laki perhatikan kondisi skrotum dan testisnya.

b)DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Depkes (2000: 32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien defisit perawatandiri yaitu:
·         Ketidakmampuan mandi/membersihkan diri ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki, dan berbau, serta kuku panjang dan kotor.
·         Ketidakmampuan berpakaian/berhias ditandai dengan rambut acak-acakan, pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, tidak bercukur (laki-laki), atau tidak berdandan (wanita).
·         Ketidakmampuan makan secara mandiri ditandai dengan ketidakmampuan mengambil makan sendiri
·         Ketidakmampuan BAB/BAK secara mandiri ditandai BAB/BAK tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAK
·         Rambut kotor, acak – acakan
·         Badan dan pakaian kotor dan bau
·         Mulut dan gigi bau.
·         Kulit kusam dan kotor
·         Kuku panjang dan tidak terawat.

c)  PERENCANAAN
Diagnosa keperawatan : penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri.
Tujuan Umum : Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri.
Tujuan Khusus
·         TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Kriteria evaluasi : Dalam berinteraksi klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat:
a. Wajah cerah, tersenyum
b. Mau berkenalan
c. Ada kontak mata
d. Menerima kehadiran perawat
e. Bersedia menceritakan perasaannya

·         TUK II : klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri.
Kriteria evaluasi : Klien dapat menyebutkan kebersihan diri pada waktu 2 kali pertemuan, mampu menyebutkan kembali kebersihan untuk kesehatan seperti mencegah penyakit dan klien dapat meningkatkan cara merawat diri.
·         TUK III : Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat.
Kriteria evaluasi : Klien berusaha untuk memelihara kebersihan diri seperti mandi pakai sabun dan disiram pakai air sampai bersih, mengganti pakaian bersih sehari–hari, dan merapikan penampilan.
·         TUK IV : Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri.
Kriteria evaluasi : Setelah satu minggu klien dapat melakukan perawatan kebersihan diri secara rutin dan teratur tanpa anjuran, seperti mandi pagi dan sore, ganti baju setiap hari, penampilan bersih dan rapi.
·         TUK V : Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri.
Kriteria evaluasi : Klien selalu tampak bersih dan rapi.
·         TUK VI : Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri.
Kriteria evaluasi : Keluarga selalu mengingatkan hal–hal yang berhubungan dengan kebersihan diri, keluarga menyiapkan sarana untuk membantu klien dalam menjaga kebersihan diri, dan keluarga membantu dan membimbing klien dalam menjaga kebersihan diri.
d)  PELAKSANAAN
·         TUK I :
a. Berikan salam setiap berinteraksi.
b. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.
c. Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien.
d. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.
e. Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien.
f. Buat kontrak interaksi yang jelas.
g. Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati.
h. Penuhi kebutuhan dasar klien.
·         TUK II :
a. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.
b. Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda- tanda bersih.
c. Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri.
d. Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali pengetahuan klien terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri.
e. Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara kebersihan diri.
f. Beri reinforcement positif setelah klien mampu mengungkapkan arti kebersihan diri.
g. Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi dan sore, sikat gigi minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur), keramas dan menyisir rambut, gunting kuku jika panjang.
·         TUK III :
a. Motivasi klien untuk mandi.
b. Beri kesempatan untuk mandi, beri kesempatan klien untuk mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar.
c. Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari.
d. Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan merapikan rambut.
e. Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk pengelolaan fasilitas perawatan kebersihan diri, seperti mandi dan kebersihan kamar mandi.
f. Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan fasilitas kebersihan diri seperti odol, sikat gigi, shampoo, pakaian ganti, handuk dan sandal.
·         TUK IV : Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur, ingatkan untuk mencuci rambut, menyisir, gosok gigi, ganti baju dan pakai sandal.
·         TUK V : Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri.
·         TUK VI :
a. Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga kebersihan diri.
b. Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang telah dilakukan klien selama di RS dalammenjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami di RS.
c. Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi terhadap kemajuan yang telahdialami di RS.
d. Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam menjaga kebersihan diriklien.
e. Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri.
f. Diskusikan bersama keluarga cara membantu klien dalam menjaga kebersihan diri
g. Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya:mengingatkan pada waktu mandi, sikat gigi, mandi, keramas, dan lain-lain.
e) EVALUASI
a. rambut : setelah dilakukan tindakan kulit rambut menjadi bersih, bau rambut harum.
b. kulit : setelah dilakukan tindakan kulit menjadi lebih halus dan tampak bersih.
c. kuku : setelah dilakukan tindakan kuku menjadi bersih dan tidak berisi kotoran.
d. mulut dan gigi : setelah dilakukan tindakan bau mulut berkurang.
e. genetalia : setelah dilakukan tindakan genetalia tampak bersih dan tidak berbau.

D. Standar Operasional Prosedure
5.1 PROSEDUR MENCUCI RAMBUT  PASIEN (SHAMPOOING)
1) Pengertian Mencuci Rambut adalah :
Suatu tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien denagn mencuci rambut dan kulit kepala pasien dengan mempergunakn shampoo.
2) Tujuan Mencuci Rambut :
a.     Membersihkan kulit kepala dan rambut
b.    Menghilangkan bau dan memberikan rasa nyaman
3) Mencuci Rambut Pasien dilakukan pada :
a.     Pasien yang rambutnya kotor
b.    Pada pasien yang akan menjalani operasi besar
c.     Setelah dipasang kap kutu
4) Alat dan bahanMencuci Rambut Pasien :
a.       Handuk 2 buah
b.      Talang
c.       Peniti
d.      Kain pel
e.       Baskom berisi air hangat
f.       Gayung
g.       Shampoo dalam tempatnya
h.      Sisir 2 buah
i.        Kain kassa dan kapas
j.        Ember kosong
k.      Sarung tangan bersih
l.        Bengkok berisi larutan desinfektan 2 – 3 %
m.    Celemek untuk petugas
n.      Alat pengering rambut

5)  Procedur Pelaksanaan
1. Tahap Pra Interaksi
a. Melakukan pengecekan program terapi
b. Mencuci tangan
c. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar
2. Tahap Orientasi
a. Memberikan salam dan menyapa nama pasien
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
c. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien
3. Tahap Kerja
a.         Menjaga privacy
b.        Mengenakan sarung tangan dan celemek
c.         Mengganti selimut klien dengan selimut mandi
d.        Mengatur posisi tidur pasien dengan kepala dipinggir tempat tidur
e.         Memasang handuk dibawah kepala
f.         Memasang ember dialasi kain pel
g.        Memasang talang dengan ujung berada didalam ember
h.        Menutup dada dengan handuk sampai ke leher
i.          Menyisir rambut
j.    Menutup lubang telinga dengan kapas dan mata dengan kain kassa/sapu tangan pasien
k.     Menyiram dengan air hangat, menggosok (memijit-mijit) kulit kepala dan rambut dengan shampoo
l.          Membilas rambut dengan air hangat sampai bersih
m.      Melepas kapas penutup lubang telinga dan kain kassa penutup mata
n.  Mengangkat talang, mengeringkan rambut dengan handuk, kemudian dengan  pengering
o.        Menyisir rambut
p.        Meletakkan kepala pada bantal yang telah dialasi handuk kering
q.        Merapikan pasien, ganti selimut mandi dengan selimut tidur
2.      Tahap Terminasi
a.         Mengevaluasi hasil tindakan
b.        Berpamitan dengan pasien
c.         Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula
d.        Mencuci tangan
e.         Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

5.2  PROSEDUR MEMANDIKAN PASIEN
1) Pengertian Memandikan Pasien di Tempat Tidur adalah :
Suatu tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang tidak mampu mandi secara sendiri dengan cara memandikannya di tempat tidur.
2) Tujuan Memandikan Pasien di Tempat Tidur :
a.       Menjaga kebersihan tubuh, menghilangkan bau badan.
b.       Mengurangi infeksi akibat kulit kotor.
c.       Memperlancar sistem peredaran darah, syaraf dan merelaksasikan otot.
d.      Menambah kenyamanan pasien.
3) Memandikan Pasien di Tempat Tidur dilakukan :
a.       Pada pasien baru, terutama bila kotor sekali dan keadaan umumnya memungkinkan.
b.      Pada pasien yang dirawat, sekurang-kurangnya dua kali sehari dengan kondisinya.
4) Alat dan bahan Memandikan Pasien Di Tempat Tidur :
ü  Baskom mandi dua buah, masing-masing berisi air dingin dan air hangat
ü  Pakaian pengganti
ü  Kain penutup
ü  Handuk besar
ü  Handuk kecil untuk mengeringkan badan
ü  Sarung tangan pengusap/waslap
ü  Tempat untuk pakaian kotor
ü  Sampiran
ü  Sabun.
5)  Persiapan pasien :
a.       Pasien diberi penjelasan dan dianjurkan untuk BAK atau BAB dulu  (bila pasien sadar)
b.      Jika kondisi memungkinkan, libatkan pasien untuk melakukan tindakan
c.       Dalam melakukan tindakan perawat harus memperhatikan keamanan dirinya sendiri dengan memakai schort, handschoen ataupun masker.
6) Prosedur kerja Memandikan Pasien Di Tempat Tidur
a.       Pintu, jendela atau gorden ditutup, gunakan sampiran bila perlu.
b.      Cuci tangan, gunakan schort, handschoen ataupun masker.
c.       Selimut dan bantal dipindahkan dari tempat tidur. Bila masih dibutuhkan, bantal digunakan seperlunya.
d.      Perawat berdiri disisi kiri atau kanan pasien.
e.       Atur posisi pasien.
f.       Lakukan tindakan memandikan pasien yang diawali dengan membentangkan handuk di bawah kepala, kemudian bersihkan muka, telinga, dan leher dengan waslap. Keringkan dengan handuk.
g.      Kain penutup diturukan, kedua tangan  pasien diangkat dan pindahkan handuk di atas dada pasien, lalu bentangkan. Kemudian kembalikan kedua tangan ke posisi awal diatas handuk, lalu basahi kedua tangan dengan air bersih. Keringkan dengan handuk.
h.      Kedua tangan diangkat, handuk dipindahkan di  sisi pasien, bersihkan daerah dada dan perut, lalu keringkan dengan handuk
i.        Miringkan pasien ke kiri, handuk dibentangkan kebawah punggung sampai glutea dan basahi punggung hingga glutea, lalu keringkan dengan handuk. Selanjutnya miringkan pasien  ke kanan dan lakukan hal yang sama. Kemudian kembalikan pasien pada posisi terlentang dan pasangkan pakaian dengan rapi.
j.        Letakkan handuk di bawah lutut lalu bersihkan kaki. Kaki yang paling jauh didahulukan dan keringkan dengan handuk..
k.      Ambil handuk dan letakkan di bawah glutea. Pakaian bawah perut dibuka, lalu bersihkan daerah lipatan paha dan genitalia.
l.        Setelah selesai, pasang kembali pakaian dengan rapi.
m.     Alat dibereskan, lingkungan diatur kembali.
n.      Cuci tangan.


5.3 PROSEDUR MEMOTONG KUKU PASIEN
Merawat Kuku merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu merawat kuku secara mandiri.
1) Tujuan
Menjaga kebersihan kuku dan mencegah timbulnya luka atau infeksi akibat kuku yang panjang
2) Alat dan Bahan
ü  Alat pemotong kuku
ü  Handuk
ü  Baskom berisi air hangat
ü  Bengkok
ü  Sabun
ü  Kapas
ü  Sikat kuku
3) Prosedur Kerja
a)       Jelaskan prosedur pada klien
b)      Cuci tangan
c)       Atur posisi pasien (Manusia coba) duduk atau tidur
d)      Tentukan kuku yang akan di potong
e)       Rendam kuku dalam air hangat +-2 menit dan sikat dengan air sabun bila kotor
f)       Keringkan tangan dan kaki dengan handuk
g)      Letakkan tangan di atas bengkok dan lakukan pemotongan kuku
h)      Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

5.4 PROSEDUR VULVA HYGIENE
Pengertian :Memberikan tindakan pada vulva untuk menjaga kebersihannya.
Tujuan :
1. Untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum maupun uterus
2. Untuk penyembuhan luka perineum/jahitan pada perineum
3. Untuk kebersihan perineum dan vulva
4. Memberikan rasa nyaman pasien
Kebijakan :Dilakukan pada ibu setelah melahirkan
Peralatan :
1. Kapas savlon
2. Handuk besar: 2 buah
3.Botol cebok
4. Pispot
5. Bengkok
6. Salep / Betadine
Prosedur Pelaksanaan :
Tahap Pra Interaksi
1. Melakukan verifikasi program pengobatan klien
            2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan alat
Tahap Orientasi
1.      Memberikan salam kepada pasien dan sapa nama pasien
2.      Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien/keluarga
3.      Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
Tahap Kerja
1.      Memasang sampiran/menjaga privacy
2.      Memasang selimut mandi
3.      Mengatur posisi pasien dorsal recumbent
4.      Memasang alas dan perlak dibawah pantat
5.      Pakaian dalam dilepas bersamaan dengan pemasangan pispot
6.      Pasien disuruh BAK/BAB
7.      Perawat memakai sarung tangan kiri
8.      Mengguyur vulva dengan air matang
9.      Pispot diambil
10.  Mendekatkan bengkok ke dekat pasien
11.  Memakai sarung tangan kanan, kemudian mengambil kapas basah. Membuka vulva dengan ibu jari dan jari telunjuk kiri
12.  Membersihkan vulva mulai dari labia mayora kiri, labia mayora kanan, labia minora kiri, labia minora kanan, vestibulum, perineum. Arah dari atas ke bawah dengan kapas basah (1 kapas, 1 kali usap)
13.  Perhatikan keadaan perineum. Bila ada jahitan, perhatikan apakah lepas/longgar, bengkak/iritasi. Membersihkan luka jahitan dengan kapas basah
14.  Menutup luka dengan kassa yang telah diolesi salep/betadine
15.  Memasang celana dalam dan pembalut
16.  Mengambil alas, perlak dan bengkok
17.  Merapikan pasien, mengambil selimut mandi dan memakaikan selimut pasien
Tahap Terminasi
1.      Mengevaluasi hasil tindakan yang baru dilakukan
2.      Berpamitan dengan pasien
3.      Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula
4.      Mencuci tangan
      5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

5.5 PROSEDUR SIKAT GIGI
1) Tujuan
a.       Membersihan gigi dari kotoran sisa makanan  dan menciptakan kesegaran bau mulut klien
b.      Mencegah terjadinya infeksi mikroorganisme pada gigi dan mulut klien, seperti stomatitis, dan karies gigi
c.       Supaya mulut dan gigi tetap sehat, bersih, dan tidak berbau.
d.      Memberikan perasaan yang nyaman dan segar pada klien setelah menggosok gigi
2) Sasaran
Pasien yang kemampuannya terbatas untuk menyikat gigi
3) Peralatan dan Bahan
ü  Pengalas (perlak kecil) 1 buah ukuran 50cm x 30cm
ü  Handuk untuk alas 1 buah ukuran 50cm x 30cm
ü  Sikat gigi untuk dewasa 1 buah
ü  Pasta gigi 1 buah
ü  Gelas kumur 2 buah@ berisi air masak 200 cc
ü  Tissue gulung 1 buah
ü  Alat penghisap (sedotan) 1 buah
ü  Baki 1 buah
ü  Ember kecil 1 buah
ü  Alat peraga (model gigi) 1 buah
ü  Bengkok 1 buah
ü  Sarung tangan bersih 1 pasang
ü  Tempat sampah medis 1 buah
4) Prosedur Pelaksanaan
1.        Memeriksa kelengkapan alat yang akan digunakan.
2.        Menyapa klien
3.        Menjelaskan prosedur pada klien
4.        Mengatur posisi klien
5.        Mencuci tangan
6.        Memasang sarung tangan
7.         Meletakkan handuk di bawah dagu klien
8.         Meletakan ember kecil  dibawah dagu klien  agar air bekas kumur dapat tertampung.
9.         Menjelaskan cara kumur kepada klien.
10.     Memperagakan cara berkumur klien
11.     Menanyakan kepada klien apakah penjelasan tersebut sudah dapat dipahami atau belum
12.     Memberikan air untuk kumur - kumur kepada klien
13.     Mengambil sikat gigi dari tempatnya.
14.     Menjelaskan cara menyikat gigi
15.     Memperagakan cara menyikat gigi
16.     Menanyakan dengan sopan kepada klien apakah penjelasan tersebut sudah dapat dipahami atau belum
17.     Meminta klien untuk melakukan simulasi/peragaan menyikat gigi
18.     Memberikan contoh ulang tentang menyikat gigi apabila peragaan yg dilakukan klien belum benar
19.     Membasahi sikat gigi dengan menggunakan air
20.     Mengoleskan pasta pada sikat gigi
21.     Memberikan sikat gigi kepada klien
22.     Meminta klien untuk memulai menyikat gigi
23.     Mengamati dan melakukan koreksi apabila ada kekeliruan dalm proses mnyikat gigi
24.     Memberikan kesempatan kepada klien untuk menyikat giginya sampai bersih,
25.     Memberikan air kumur pada klien
26.     Meminta klien untuk melakukan kumur
27.     Meminta klien mengeluarkan air kumur ke dalam ember kecil
28.     Menampung air kumur pada ember kecil dan membuang air kumur ke sampah medis
29.     Mengeringkan mulut dan bibir klien
30.     Mengangkat handuk
31.     Mengembalikan posisi klien pada posisi sebelum sikat gigi
32.     Mengucapkan terima kasih
33.     Membersihkan sikat gigi
34.     Memasukan sikat gigi ketempat semula
35.     Mengangkat gelas dan ember kecil dan diletakan diatas baki
36.     Membereskan peralatan sikat gigi,bersihkan,dan kembalikan ketempatnya
37.     Melepas sarung tangan lalu masukan kedalam bengkok kosong
38.     Mencuci tangan
39.     Mendokumentasikan tindakan



BAB III
PENUTUP
6.1  Kesimpulan
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri dangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan.Hal-hal yang sangat berpengaruh itu di antaranya kebudayaan, sosial, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta tingkat perkembangan.
Memenuhi kebutuhan kebersihan diri pada lansia adalah suatu tindakan perawatan sehari – hari yang harus diberikan kepada klien lanjut usia terutama yang berhubungna dengan kebershan perorangan (Personal Hygiene), yaitu antara lain kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan kepala, rambut dan kuku, serta kebersihan tempat tidur dan posisi tidur.

6.2  Saran
Bagi Perawat
Saran untuk Perawat yang memberikan asuhan keperawatan pada pasien harus memperhatikan personal hygiene klien.

Bagi Mahasiswa
Mahasiswa yang sedang praktek, gunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk serius ingin mengetahui sisi baik, buruk dari segi sosial dan juga dari segi pendidikan keperawatan hingga lebih berpengalaman dalam bidang keperawatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar